Penutupan Layanan CBN Cable Internet (Wed, Jun 4 2014)
  NEWS | TECH |TRAVEL |SHOPPING |ENTERTAINMENT |HEALTH |MAN |WOMAN| MAP |  
 
Smart Shopping | Advertorial | ShopperStar | Book Review | Tour de Store
 
   
SmartShopping  
 






Bursa Porselen Rawasari: Diminati Turis Mancanegara
SmartShopping Tue, 01 Jun 2004 09:22:00 WIB

Lima belas tahun lalu, tepatnya Oktober 1989, Opung Tampubolon, Ny. L. Simamora dan bebrapa orang lainnya berjualan porselen dan keramik di kawasan Rawasari. Semula, barang-barang dagangan itu dibawa oleh mereka yang sering bepergian ke SIngapura dan Hongkong. Lambat laun, pembeli terus berdatangan, dan pedagang pun bertambah banyak. Kini, tidak kurang dari 60-an pedagang menimba rezeki dari berjualan porselen Cina. "Semua orang sudah tahu, Rawasari adalah tempat penjualan keramik dan porselen Cina," kata Opung Tampubolon kepada Travel Club, ketika ditemui di kiosnya.

Senada dengan Opung Tampubolon, Ny. L. Simamora mengungkapkan, begitu terkenalnya, banyak orang yang mengidentikkan Rawasari dengan proselen. "Tempat ini sudah lama dikenal sebagai pusat perdagangan keramik dan porselen terbesar di Indonesia. Karenanya, pembelinya pun datang dari seluruh penjuru Indonesia, seperti Makassar, Merauke, Blai, dan Surabaya. Bahkan, pedagang-pedagang di Jakarta lainnya pun mengambil porselen di sini," paparnya.

Bukan hanya pembeli-pembeli lokal yang berbelanja di sana. Tidak sedikit turis mancanegara dari Eropa, Australia, Korea dan Jepang yang belanja porselen di Rawasari, terutama pada hari Senin-Kamis. Menurut Ny. L. Simamora, selain untuk koleksi pribadi, tak sedikit turis yang mengambil untung dengan cara menjual kembali porselen dan keramik ke negara-negara Arab, khususnya produk-produk batu buatan Tulunagung, Jawa Timur.

Beragam barang digelar di sana. Ada lampu kristal, barang-barang pajangan atau hiasan, alat-alat dapur hingga barang-barang yang berhubungan dengan kegiatan keagamaan. Ukurannya pun beragam, dari yagn ahnya beberapa sentimeter hingga dua meter. Penampilannya juga berwarna-warni.

Selain produk dari Cina, mereka juga menjual produk lokal dari Plered dan Tulungagung. Periuk-periuk tanah, vas bunga dan barang keramik lainnya, mereka ambil dari Plered. Sedangkan dari Tulungagung, merek amengambil meja makan, meja hias, meja telepon, kursi dan tempat air yang umumnya terbuat dari batu.

Harganya bervariasi, dari yang cuma ribuan hingga puluhan juta. Acen, seoran gpedagang lainnya mengatakan, barang-barang dagangannya dijual dengan harga paling murah puluhan ribu dan paling mahal sekitar tiga juta. "Tapi barang-barang kristal umumnya mahal. Harga satu lampu kristal bisa mencapai Rp 20 juta. Sebuah teko air bisa berharga mencapai Rp 350 ribu. Satu set alat pemanas makanan (tiga ukuran) berharga Rp. 300 ribu," ujar Acen.

sedang Ny. L. SImamora mengaku, harga barang yang dia jual lebih bervasiasi, tergantung jenis dan ukurannya. Harganya bisa hanya ribuan rupiah hingga puluhan juta. "Kalau menjual barang-barang yagn mahal, belum tentu ada pembelis etiap hari. ITulah mengapa saya juga menjual barang-barang kecil yagn murah karena bisa membantu menambah pendapatan setiap hari. Misalnya, setangkai bunga ini, saya jugal hanya Rp 10 ribu," paparnya.

Bukan cuma dari jenis dan ukuran, variasi harga ini juga bergantung pada asal barangnya. Para pencinta porselen atau keramik megnenal dengan baik mana keramik berkualitas bagus, dan mana yang berkualitas biasa-biasa saja. Umumnya, porselen dari Beijing (Cina) berharga lebih tinggi ketimbang porselen dari Taiwan.

Secara fisik, porselen dari kedua negara itu bisa dibedakan. Menurut Acen, porselen dari Beijing warnanya lebih tenang, tidak mencolok, tidak mudah pudar, tebal dan berat. Sedang porselen dari Taiwan umumnya bewarna mencolok. "Meski kena panas dan hujan bergantian, warna porselen Beijing tidak berubah. Tapi, porselen Taiwan mudah berubah warna. Bahkan, kalau kita sering pegang lama kelamaan warnanya berubah," jelas Acen.

Menurun
Seiring perjalanan waktu, kejayaan para pedagang porselen di Rawasari ini mengalami penurunan. Baik Acen maupun Ny. L. Simamora mengakui, dalam dua tahun belakangan ini pihaknya mengalami penurunan omzet penjualan. "Saya nggak secara pasti mengapa belakangan agak sepi. Barangkali akrena daya beli sedang menurun," kata Acen. "Tapi bisa jadi karena para pencinta porselen dan keramik sudah bisa berbelanja sendiri ke Batam atau Singapura," sambungnya.

Sedang Ny. L. Simamora menilai, selain karena krisis, sejak dibukanya perdagangan langsung dengan Cina, para produsen porselen Cina langsung berhubungan dengan daerah-daerah yang dulunya membeli dari pusat perdagangan porselen di Rawasari.

Senasib dengan Acen dan Ny. L. Simamora, sejumlah pedagang lainnya jug amengaku kalau belakangan ini omzet penjualannya menurun. "Kadang-kadang dalams atu minggu, dua hari kita ngelayanin lima hari cuma bengong," seloroh Acen.

Untuk mengatasinya memang perlu kiat yang jitu. Ny. L. Simamora mengaku, untuk menyiasati keadaan, dirinya menjual barang dagangan lebih beragam, tidak hanya porselen hiasan, tetapi bnarang-barang kecil yang harganya ribua. "ya, masih lumayan sih. Setiap hari saya masih dapat satu juta rupiah. Tapi dibanding dulu, jauh sekali. DUlu, omzetnya bagus ekali, sampais aya bisa ganti mobil setiap tahun," katanya.

Keadaan terus berubah, namun mereka tetap bertahan. Meski di depannya sedang dibangun jalan layang sehingga pandangan dari jalan terhalang oleh seng-seng proyek, mereka tetap berjualan. "Bagaimanapun kondisinya, saya akan tetap berjualan demi untuk bertahan hidup," kata Acen.

Tidak hanya itu persoalan yang mereka hadapi. Lahan y agn mereka tempati itu berstatus hak guna pakai (HGP). Artinya, sesuai perjanjian, bila sewaktu-waktu pemerintah daerah membutuhkan lahan tersebut, mereka harus mengembalikannya.

"Ini memang dilema tersendiri buat kami. Terus terang, sampai sekarang kami belum tahu kapan pemerintah akan mengambil lahan ini. Tapi bila nantinya diambil, kami berharap pemerintah menyediakan tempat yang baru bagi mreka. Toh, ini ada untungnya bagi pemerintah juga," tandas Ny. L. Simamora.

Sumber: Travek Club

Sumber: CBN




Other articles

Cara Tepat Mengambil Asuransi
Fri, 28 May 2004 10:44:00 WIB
Belanja Sambil Wisata Di Pasar Baru
Wed, 26 May 2004 09:04:00 WIB
Menikmati Liburan dengan Belanja Murah
Tue, 25 May 2004 08:41:00 WIB

 

 
CBN Area lensaindonesia.com Liputan6.com
 
asdfasdfasdf
 
25%


dari jumlah pernikahan di Indonesia dilakukan oleh perempuan di bawah usia 16 tahun.

(Majalah Area)


 
Book Review
 
Mon, 10 Nov 2014 16:16:00 WIB
Doc McStuffins
Putri Duyung Belajar Berenang