• Penutupan Layanan CBN Mobile 3.5G thru XL   • CBN Menaikkan Dua Kali Lipat Bandwidth DirectNet di Bogor dan Bandung   • Kantor Pusat CBN Pindah
  NEWS | TECH |JOB |TRAVEL |SHOPPING |ENTERTAINMENT |HEALTH |MAN |WOMAN| MAP |  
 
Hot Topic | Showbiz News | Hang Out | E-Cards | Review | Horoscopes | Clubbing
 
   
Hot Topic  
 




Male Emporium

Pancaran Sinar Banyolan
Hot Topic Tue, 18 Dec 2007 16:00:00 WIB

Kehadiran band-band parodi selalu menarik perhatian. P Project yang lebih dulu hadir hingga kini tetap bertahan dengan kehadiran regenerasi Project Pop untuk mempertahankan eksistensinya. Selain penampilan yang konyol, lirik band-band parodi inipun tak kalah seru.

Banyak yang menyalah-artikan mereka sebagai band lawak, padahal penggarapan materi album mereka dikemas secara rapi dan serius. Dengan sentuhan lirik-lirik yang menghibur dan nyeleneh. Tentu itu menjadi daya tarik tersendiri ditengah himpitan band-band pada umumnya. Kriteria wajah tampan atau cantik tidak masuk dalam daftar jualan mereka. Hanya butuh tampang kocak dan nyentrik yang ternyata membuat penampilan meeeka dilirik orang. Selain tentu saja dengan rentetan lirik yang menggoda.

P Project adalah salah satu pelopor yang menggawangi kehadiran band-band parodi (lagu-lagu komedi plesetan) diawali tahun l994, kemudian dilanjutkan oleh Project Pop yang tak kalah serunya dari "sang kakak”, dengan benang merah yang mengutamakan lirik yang "tak biasa”.

Pengikut mereka pun bermunculan. Sebut saja seperti kehadiran Wong Pitoe yang mengawalinya sebagai band cafe. Seperti pendahulunya, mereka pun hadir secara borongan alias banyak personil. Perform mereka di panggung menjadi andalan utama didukung dengan kostum yang lagi-lagi tak biasa, sebagai salah satu usaha mereka menjalin komunikasi dengan penonton agar lebih terhibur lewat polah tingkah laku mereka yang "ancur".

Begitu juga dengan Serius Band, sukses meracik classic rock menjadi banyolan yang banyak disukai dalam lagu "Rocker Juga Manusia". Bahkan lewat penampilannya yang tidak "serius", mereka mendapatkan penghargaan melalui ajang MTV awards 2005, sebagai penyandang Best Performance in a Video. Terbukti kan, penampilan nyeleneh sekalipun bisa mendapat simpati dari masyarakat yang belakangan diserbu band-band parodi dengan warna musik yang segar dan menghibur.

Konsep bermusik yang mereka tawarkan meramu antara kelucuan dan kekonyolan menjadi suguhan menghibur di atas panggung. Bahkan kesuksesan mereka menjadi inspirasi band-band saat ini, yang bertujuan selain menghibur tentu juga menawarkan warna yang sebelumnya sudah akrab di telinga. Seperti lagu milik (Alm) H. Benyamin Sueb, bahkan terang-terangan meniru gaya Benyamin di era tiga jaman (70', 80', 90).

Simak saja Band Jiung, yang terinspirasi dari sang Betawi legend. Jika ditilik, kegemaran mereka akan lagu-lagu Bang Ben ketika berada di lingkungan berkesenian yang kental semasa kuliah di jurusan seni rupa di Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Karena terlalu sering mereka membawakan lagu-lagu Bang Ben, tercetuslah ide untuk membuat album di tahun 2005 dengan lirik-lirik yang baru. Namun tetap dengan nuansa budaya betawi ala Bang Ben, walau tetap ada unsur rock, bosas, grunge sampai alternative di bawah indie label.

Jiung pun menjual penampilan mereka dengan kostum yang berbeda-beda setiap kali mereka manggung, "setiap kita manggung, entah itu di acara pensi atau sekedar undangan, kita selalu sesuaikan tema dengan kostum yang kita kenakan. Performance memang nomer satu buat Jiung, tapi skill juga kita asah terus, supaya seimbang," papar Oldy, basis Jiung.

Walau merasa enggan masuk kategori band parodi, namun Jiung menyerahkan semuanya ke masyarakat, "Kalo boleh jujur, kita tidak setuju disebut band parodi. Parodi kan berarti meniru-niru gaya orang lain. Tapi balik lagi ke masyarakat, karena yang menilai kan selama ini mereka. Jiung sendiri inspirasinya mengambil dari segi budayanya saja," lanjut Oldy.

Tak beda jauh dengan Jiung, band yang satu ini juga membawa unsur budaya betawi ke dalam lagu-lagunya, mereka adalah Gondal-Gandul. Band parodi ini telah merilis album perdananya di tahun 2006 silam. Lingkungan pergaulan saat menjadi supporter Persija yang membawa mereka akhirnya memilih musik ala Bang Ben. "Konsep yang ditawarkan kita adalah ingin mengenang lagu-lagu Bang Ben sebagai seniman besar. Apalagi sebelumnya kita tahu Penyot Sexy juga membawakan itu," tutur Mario, Vokalis Gondal-Gandul.

Jika melihat angka penjualan jualan band-band parodi, memang tidak selaris manis band umumnya, mereka memiliki komunitas pendengarnya sendiri, "Sebenarnya kita tidak setuju dibilang band parodi, karena bukan itu tujuannya. Tapi karena penampilan kita yang keroyokan, jadi bikin heboh, jadi bawaannya ingin ngebanyol," sambung Mario sumringah.

Band-band parodi kian bermunculan, melalui pentas-pentas kecil yang membawa mereka memiliki pendengar atau pemujanya sendiri. Kehadiran mereka di acara-acara sekolah, tak terhitung jumiahnya. Acara-acara sekelas ini membuat marak kehadiran band-band parodi yang notabene selalu membawa massa-nya sendiri di tengah-tengah crowd. Tingkah mereka yang eksentrik plus suguhan banyolan yang membawa suasana semakin panas tersebar seantero jagad sekolahan.

"Fans sudah kita anggap seperti teman, jadi setiap ada jadwal manggung dimana saja, kita selalu kasih tahu. Kita tidak pernah keberatan dengan sebutan apa pun, itu hak mereka, selagi mereka terhibur, it's ok. Karena itu salah satu tujuan kita," papar Jawe, Basis Sekarwati yang menganggap musik mereka sebagai 'ekspresi anak-anak untuk berkarya'.

Pancaran Sinar Petromak alias PSP adalah sumber inspirasi Sekarwati dalam mencipta lagu, unsur yang diusung tentu orkes melayu yang terdengar seperti dangdut. "Band yang lain mungkin hanya dengan unsur pop, sedangkan Sekarwati mencoba menerjemahkan orkes melayu ke pengalaman masing-masing. Ada yang jadinya dangdut, rock, bahkan keroncong itu tidak jadi soal buat kami, yang terpenting ekspresi jadi diri sendiri karena itu benang merah Sekarwati," akunya berseloroh.

Performance bagi Sekarwati sama pentingnya, selain sebagai daya jual. Namun harus tetap satu garis antara penampilan di saat manggung dengan lagu yang dibawakan. "Kita selalu optimis, band seperti kita selalu punya pasarnya sendiri kok. Mulai acara sekolahan sampai acara family gathering juga ada," ungkap Jawe membocorkan.

Unsur keroyokan dalam band-band parodi ternyata memiliki maksud sendiri."Karena tidak mungkin double agent, jadi ada yang pegang alat atau player, ada yang ngelawak. Jadi vokalis harus orang yang piawai ngomong dan atraktif sama audience. Karena balik lagi ke tujuan awal yaitu entertain," lanjut Jawe menutup pembicaraan.

Tidak usah diragukan lagi kepiawaan mereka mengocok perut penonton dengan polah yang gila dan sederet lirik-lirik lagu yang membuat seuntai senyum di bibir. Kehadiran mereka membawa angir segar yang menghibur dan tak akan lekang oleh waktu dengan terus bermunculan band-band sejenis, meramaikan kancah industri musik tanah air.

Sumber: Male Emporium




Other articles

Memburu Seru, Menjual Hantu
Tue, 11 Dec 2007 16:00:00 WIB
Ketika Pasangan terlibat Narkoba
Tue, 27 Nov 2007 16:00:00 WIB
Dibalik Penangkapan Roy Marten
Tue, 20 Nov 2007 16:00:00 WIB

 

 
Indosiar.com Male Emporium Sony BMG Freemagz.com
 
Agenda
 
February 2010
SMTWTFS
123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28
 
 
38


miliar atau seharga 2,5 juta Poundsterling harga rumah yang dibeli oleh penulis buku Harry Potter, JK Rowling
(okezone.com)


 
   
 

 
Horoscopes
 

Hidup bersama tentunya tak bisa lepas dari berkompromi dengan segala hal. Ada satu hal yang harus selalu diingat, setiap orang pastinya mempunyai kekurangan dan kelebihan, termasuk Anda sendiri.


read more...